TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - NAMANYA Kampung Lawas. Sekilas, terlihat seperti kampung biasa yang berada di tengah kota Surabaya. Pertama kali melihat kampung ini, pengunjung hanya mendapati mural bergambar 3D di setiap langkah.

Tidak hanya itu, pengunjung dapat menikmati secangkir kopi di sebuah rumah yang memiliki desain jaman Belanda.

Namun, jika ditelisik lebih jauh, kampung yang hanya terdiri dari lima rukun tetangga itu memiliki sejumlah penghargaan. Mulai dari tingkat kecamatan, kota, provinsi hingga nasional. Belum sampai di situ, baru-baru ini, UNICEF memberikan pujian kepada Kampung Lawas Maspati Surabaya.

Lalu, apa yang istimewa kampung ini? Ketua RT 3 RW 8 Kampung Lawas Maspati, Suyatno mengatakan, keistimewaan kampungnya adalah sikap Gotong Royong warga sekitar dan juga berbagai kegiatan yang dapat dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan secara mandiri.

”Kalau dilihat sekilas ya memang sama saja. Tapi, kebersamaan di Kampung ini dan usaha-usaha kecil dari masyarakat sendiri, itu mungkin yang menjadi istimewa,” kata dia kepada tim Tour De Java Tribun.

Pria yang akrab disapa Cak Oon itu kemudian mengantarkan tim berkeliling melihat-lihat kondisi kampung. Warga sekitar begitu ramah melempar senyum. Kata Suyatno, warga kampung sudah begitu terbiasa dengan orang asing. Hampir setiap hari ada saja kunjungan ke kampung mereka. Mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga ibu-ibu PKK dari luar kota Surabaya.

”Sehari bisa tiga sampai empat kali kunjungan. Ada yang rombongan, ada yang sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Laki-laki dengan dua anak itu kemudian menunjukkan sebuah aula berukuran 5x3 meter di ujung jalan Maspati VI itu kepada tim. Dia menceritakan, aula itu digunakan sebagai tempat penyuluhan warga kepada pengunjung yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai seluk beluk kampung.

Jalan sedikit, Suyatno menunjukkan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar. Bangunan dalam kondisi rusak itu, merupakan Sekolah Ongko Loro yang sudah ada sejak jaman Belanda.

Bukan hanya itu, Cak Oon juga mengatakan bahwa Kampung Lawas Maspati menjadi saksi bisu kisah heroik arek Suroboyo dalam melawan penjajah. ”Ini rumah sejak 1907 milik keluarga M Sumargono. Rumah ini pernah jadi markas tentara pemuda Surabaya dulu,” ucapnya menunjukkan bangunan yang tidak jauh dari sekolah.

Selain mural 3D dan bangunan tua beserta dengan sejarahnnya, sepanjang jalan kampung yang hanya mampu dilewati dua motor itu, juga dapat ditemui sejumlah tanaman obat yang bernama Toga yang dibudidyakan oleh warga.

Anak-anak riang bercanda sambil membaca buku bergambar di sebuah perpustakaan di Kampung Lawas Maspati, Surabaya. TRIBUNNEWS.COM (Tribunnews.com)

Ketika tim Tour De Java berkunjung, Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Surabaya mempersiapkan segala hal di kampung tersebut. Kepala Puskesmas setempat, Rahmat Suudi mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan kondisi kampung agar dapat memenangi lomba tingkat provinsi Jawa Timur dalam budidaya tanaman obat Toga.

"Iya, karena dari tingkat Kota, Kampung Lawas menang untuk budidaya tanaman Toga. Jadi, ini sedang persiapan di tingkat provinsi. Kampung ini akan mewakili Kota Surabaya," jelas dia di sela kesibukannya memberikan pengarahan kepada warga. 

Bayar Rp 2 Juta

KETUA RW 8 Kampung Lawas Maspati, Sabar menjelaskan saat ini pihaknya lebih profesional menyambut tamu di tempatnya. Pengunjung dalam jumlah besar, atau mereka yang ingin disambut dengan berbagai tarian dan kegiatan khas warga dikenakan biaya sebesar Rp 2 juta setiap kali kunjungan.

Rombongan juga diminta terlebih dahulu menghubungi pihak Kampung Lawas beberapa hari sebelum datang. Seluruh dana itu akan dibagikan kepada warga yang terlibat dalam penyambutan dan juga untuk kas kampung.

Nantinya, pengunjung dapat diberikan fasilitas penyuluhan, pelatihan, serta dapat mencoba berbagai macam permainan daerah di lokasi yang tidak jauh dari Pasar Turi itu. ”Untuk kas kampung dan warga yang terlibat,” tukasnya.

Belum sampai disitu, aneka produk usaha kecil menengah dari warga juga akan disuguhkan kepada pengunjung. Serta diberikan minuman gratis saat turun dari bus. ”Istilahnya, paket komplet. Ada jasa tour guide juga selama berkunjung di kampung,” ujarnya.

Bagi pengunjung yang ingin datang tanpa perlu penyambutan dan hal lain, juga dapat menikmati Kampung Lawas Maspati dengan langsung datang dan menghubungi kantor informasi agar diantarkan oleh pemandu.

Tertarik belajar sejarah dan menikmati sajian lengkap Kampung Lawas?