Kampung Lawas Maspati: Suatu inspirasi tentang pelestarian bangunan peninggalan era kolonial dan pemberdayaan masyarakat
 lalu saya berkesempatan mengikuti blusukan heritage yang diselenggarakan oleh Surabaya Historical Community (SHC) dengan tema "Kebangkitan Surabaya". Blusukan kali ini berada di sekitar Bubutan, Tambak Bayan, Makam Dr. Sutomo, dan Kampung Lawas Maspati.
Disini saya akan mengulas tentang Kampung Lawas Maspati:
Kampung Maspati terletak di jantung kota Surabaya di kawasan heritage sekitar Tugu Pahlawan. Kampung ini tak ubahnya seperti perkampungan pada umumnya dengan gang kecil dan rumah-rumah penduduk yang padat. Yang membedakan adalah di kampung ini masih banyak terdapat rumah-rumah kuno peninggalan jaman kolonial.
Memasuki Kampung Lawas Maspati
Saya salut dengan Pak RW dan penduduk setempat yang sadar akan pentingnya melestarikan bangunan kuno. Salah satu wujud nyata dari adanya kesadaran tersebut adalah dengan menetapkan Maspati sebagai Kampung Lawas (Maspati Gang V dan VI) sekaligus juga dikembangkan sebagai destinasi wisata baru di Kota Surabaya.
Di kampung ini selain masih banyak dijumpai bangunan kuno, masyarakatnya juga welcome sekali dengan tamu yang datang berkunjung. Mereka tak segan mempersilahkan para pengunjung untuk melihat-lihat (explore) bagian dalam rumah dan juga memberi suguhan sekedarnya bahkan ada seorang nenek-nenek yang keluar dari sebuah gang sempit membagikan air mineral botolan plus permen.

Sambutan Bapak Ketua RW
Explore rumah-rumah tua

Explore rumah-rumah tua

Explore rumah-rumah tua
Pemberdayaan/daya tarik kampung ini selain dari sisi rumah-rumah kuno juga dikembangkannya berbagai macam tanaman toga, bunga, dan buah-buahan dan ditanam di pot dan diletakkan di sepanjang gang. Tanaman-tanaman ini selain berfungsi untuk penghijauan/edukasi toga juga bisa dibeli untuk dijadikan souvenir/ditanam lagi di rumah. Selain itu ketika ada pengunjung datang warga juga menjual berbagai macam penganan kecil dan juga minuman produksi sendiri, seperti sinom dan es dawet. Hal ini tentu saja bermanfaat sekali untuk mendukung perekonomian warga.
Kampung yang bersih dan hijau

Banner Kitchen Farming
Hijau dengan tanaman toga, bunga, dan buah-buahan

Rumah warga yang berpagar tinggipun tetap "dihijaukan"

Sinom, Es Dawet dan Es Cincau buatan warga dengan harga murmer Rp 5000,-
Pada saat tertentu di kampung ini diadakan semacam festival dengan nama "Festival Kampung Lawas" dimana pada event ini ada berbagai macam acara diantaranya bazaar tempo dulu, pameran foto, pameran mainan tempo dulu, lomba permainan tradisional, hiburan rakyat, jajanan tempo dulu dan lomba fotografi.

Ketika blusukan di kampung ini pikiran saya menerawang jauh kembali ke Kota Mojokerto di suatu daerah bernama Kauman, Kradenan, serta Sidomulyo yang terletak di pusat kota tak jauh dari Alun-Alun Mojokerto. Di ketiga area tersebut banyak sekali terdapat bangunan-bangunan (rumah-rumah) tua peninggalan jaman kolonial bahkan bisa saya bilang kalau jumlahnya lebih banyak dari yang terdapat di Kampung Lawas Maspati. Tapi sayang tidak ada yang punya ide/greget untuk mengembangkannya sebagai kawasan cagar budaya/destinasi wisata heritage. Saya melihat Kauman, Kradenan dan Sidomulyo punya potensi besar untuk dikembangkan seperti Kampung Lawas Maspati. Bahkan saya yakin diantara bangunan/rumah-rumah tua itu pasti ada yang punya nilai sejarah tetapi karena tidak pernah diexplore sampai sekarang tidak ada yang tahu.
Sebetulnya juga tidak hanya daerah Kauman, Kradenan dan Sidomulyo saja yang punya potensi tapi hampir 70% perkampungan wilayah kota Mojokerto punya potensi tersebut (Gedongan, Balongsari, Miji, Hayam Wuruk). Hal ini dikarenakan bangunan/rumah tua era kolonial tersebar di hampir seluruh wilayah kota bahkan kabupaten Mojokerto.  
Pertanyaannya sekarang adalah: adakah yang mau memulai dan mampu menggerakkan masyarakat di sana? Hanya waktu yang bisa menjawab.