KAMPUNG LAWAS MASPATI

Saat ini, Surabaya tumbuh menjadi kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Surabaya menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri dan pendidikan. Bagaimana suasana Surabaya di masa kerajaan antara abad 18 sampai 19, atau antara tahun 1700 sampai sebelum 1900? Surabaya adalah kota kerajaan yang indah dan eksotis dan dijuluki Belanda, Amsterdam from the east. Kembaran Amsterdam dari timur.

Surabaya sejak pertama dibangun ditata dengan perencanaan yang matang. Tidak ditata oleh Belanda. Namun oleh kearifan lokal orang-orang besar Surabaya. Kota ini dibangun tidak sekadar memburu estetika, Namun mempertimbangkan spirit energi alam. Keseimbangan antara kekuatan pertahanan, aktivitas dagang, dan spiritualisme Jawa pesisiran.

Awal abad 17, seorang petualang Belanda, Artus Gijsels, ketika tiba di Surabaya sempat mencatatka n kekagumanya..Catatannya dalam Buku Belanda berjudul Figur Tokoh Sejarah Belanda, Arfus Gijsels, Expeditie Soerabaia naar Passoeroean bij 1706 (ekspedisi Surabaya ke Pasuruan pada 1706). Catatannya dalam bahasa Belanda kuno. Namun jika disadur dalam bahasa Indonesia artinya: “Surabaya telah diatur dengan baik sekali. Pertahannya kuat, kota ini pasti tidak dapat ditembus karena ada dua tembok pengaman kerajaan. Yaitu di tepi kerajaan dan yang mengitari kraton. Kotanya indah dan tertib, kehidupan penduduknya dinamis. Meskipun Surabaya sedang berperang –dengan Mataram-, namun keadaan Surabaya tampak seperti biasa. Hanya keadaan di kota, banyak wanita ketimbang pria” tulisnya.

Sisa kekaguman itu masih bisa dirasakan saat ini. Sisa kerajaan itu masih ada. Salah satunya yaitu Kampung Kraton yang kini diapit Jl Kramatgantung dan Jl Pahlawan. Permukiman para punggawa kraton alias 'perumahan pejabat' berada di barat kraton, karena sisi barat sebagai simbol spiritual. Saat ini perumahan pejabat atau punggawa keraton tersebut menjadi Kampung Tumenggungan dan Maspati yang ada di sisi barat Jl Bubutan. Disinilah dulu tempat tinggal Tumenggung dan Patih untuk urusan kerajaan.

Kampung Maspati berada di tengah kota surabaya, 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, Kampung ini dikelilingi bangunan modern namun budaya, kearifan lokal dan tradisi-tradisi kampung, tetap terjaga. Bangunan-bangunan dan barang-barang peninggalan kerajaan mataram pun masih terawat hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari peran serta warga kampung lawas Maspati yang terdiri dari 350 KSK dan 1350 jiwa.

Sisa kekaguman itu masih bisa dirasakan saat ini. Sisa kerajaan itu masih ada. Salah satunya yaitu Kampung Kraton yang kini diapit Jl Kramatgantung dan Jl Pahlawan. Permukiman para punggawa kraton alias 'perumahan pejabat' berada di barat kraton, karena sisi barat sebagai simbol spiritual. Saat ini perumahan pejabat atau punggawa keraton tersebut menjadi Kampung Tumenggungan dan Maspati yang ada di sisi barat Jl Bubutan. Disinilah dulu tempat tinggal Tumenggung dan Patih untuk urusan kerajaan.

Kampung Maspati berada di tengah kota surabaya, 500 meter dari Monumen Tugu Pahlawan, Kampung ini dikelilingi bangunan modern namun budaya, kearifan lokal dan tradisi-tradisi kampung, tetap terjaga. Bangunanbangunan dan barang-barang peninggalan kerajaan mataram pun masih terawat hingga saat ini. Hal ini tidak lepas dari peran serta warga kampung lawas Maspati yang terdiri dari 350 KSK dan 1350 jiwa.


History

Surabaya is now developing into the second biggest metropolitan after Jakarta. It is a business, education and industrial center. But how was Surabaya around 18th-19th century, or in 1700-prior to 1900? It was a beautiful and exotic imperial city which was then called Amsterdam from the East, or the twin of Amsterdam.

It was well planned and designed since the beginning of its time, not by Dutch colonists, but by the locals and their leaders. It wasn’t built merely by esthetics only, but also by considering natural spirit energy, which a balance between defense, trading activities and Javanese coastal spiritualism.

In the early of 17th century, a Dutch explorer, Artus Gijsels, had once recorded his amazement in a book entitled “Figur Tokoh Sejarah Belanda, Arfus Gijsels, Expeditie Soerabaia naar Passoeroean bij 1706” A Historian figure for expedition Surabaya to Pasuruan in 1706).

We can still see the remarkable remains of the kingdom as in “ Kampung Keraton” or imperial village which lays between Krammat Gantung and Pahlawan streets. They were the residence of the noblemen in the western part which symbolized a high spirituality. At present, those residences are called Kampung Tumenggungan and Maspati on the western side of Bubutan street. They were the official residences area.

It is located in downtown, about 500m from Tugu Pahlawan Monument, surrounded by modern building. However, the local wisdom and the tradition remains well preserved, including some relics and the building of Mataram Kingdom Era. It was none but the great effort of the current residents, for about 350 families or 1500 people.